CORONG INFORMASI PRABUMULIH — Koperasi produsen MIWA Pineapple kota Prabumulih menyampaikan terimaksih sekaligus apresiasi tinggi atas dukungan berkelanjutan PT Pertamina Gas (Pertagas) yang dinilai berperan krusial dalam mendorong penguatan hilirisasi produk pertanian berbasis nanas hingga menembus pasar internasional.
Hal tersebut disampaikan Agus Zaili Coe Koperasi MIWA saa menerima kunjungan GM Pertagas pusat, menurutnya Dukungan Pertagas tidak hanya bersifat simbolik, tetapi diwujudkan melalui bantuan nyata berupa peralatan produksi, mulai dari mesin pengolahan buah, mesin pemintal serat daun nanas, hingga berbagai sarana pendukung lain yang kini dimanfaatkan secara optimal oleh koperasi.
“Bantuan dari Pertagas menjadi kekuatan besar bagi kami. Mulai dari peralatan produksi hingga pendampingan, semuanya sangat membantu koperasi berkembang dan meningkatkan kapasitas,” ujar Agus Zaili, CEO Koperasi MIWA.
Agus menjelaskan, keberadaan peralatan tersebut memungkinkan koperasi memaksimalkan potensi nanas secara menyeluruh, tidak hanya pada buah, tetapi juga pemanfaatan limbah daun nanas yang selama ini terbuang.
Produk buah nanas Tembus Dubai, Respons Positif Pasar Internasional
General Manager Pertagas Pusat, Robi Yasin, menegaskan bahwa Koperasi MIWA memiliki posisi strategis dalam meningkatkan nilai ekonomi petani nanas. Menurutnya, koperasi telah menghadirkan solusi konkret melalui pemanfaatan seluruh bagian tanaman.
“Dengan hadirnya Koperasi MIWA, bukan hanya buah nanas yang bernilai ekonomi, tetapi juga daunnya. Ini solusi nyata bagi petani,” kata Robi.
Ia mengungkapkan, kualitas produk MIWA telah mendapat respons positif dari pasar internasional. Hal itu dibuktikan dengan pengiriman sampel produk nanas ke Dubai yang dinilai unggul dari sisi kualitas dan warna.
Saat ini, Koperasi MIWA mengembangkan dua produk utama, yakni nanas olahan dan serat daun nanas. Ke depan, koperasi menargetkan pengembangan hingga menghasilkan bahan baku tekstil bernilai tinggi, seperti benang dan kain berbasis serat nanas.
“Kami berharap pengembangan ini berlanjut hingga mampu menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi,” tambah Robi.
Geneneral manager Pertagas dalam kegiatan kunjungan pada senin (22/12/25), Robi Yasin menegaskan bahwa dukungan Pertagas merupakan bagian dari program pemberdayaan berkelanjutan. Salah satu fokus utama adalah mendorong Koperasi MIWA memiliki kebun inti nanas.
“Sejak awal, program Pertagas bukan hanya soal bantuan alat produksi, tetapi mendorong koperasi memiliki kebun inti. Selama ini petani berperan sebagai plasma, ke depan koperasi harus punya kebun sendiri sebagai pusat produksi dan edukasi,” jelas Robi.
Agus Zaili menyampaikan Dengan kebun inti tersebut, koperasi diharapkan menjadi pusat pembelajaran petani, mulai dari teknik panen daun nanas yang benar, perawatan tanaman, hingga peningkatan kualitas produksi.
Kabar baiknya, rencana ini mendapat dukungan konkret dari kalangan akademisi. Prof. Dr. Faisal Daud, M.Si, selaku penasihat Koperasi MIWA dan anggota KADIN, telah memberikan Hak Guna Usaha (HGU) selama 10 tahun untuk pengembangan kebun inti nanas. Lahan tersebut akan menjadi sentra produksi sekaligus pusat pengumpulan bahan baku.
Program Lanjutan dan Pengembangan Lahan
Pertagas dan Koperasi MIWA juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait pengembangan lahan inti non-monokultur. Tahun depan, program lanjutan akan difokuskan pada penyediaan bibit, pendampingan teknis, serta skema pengembangan lahan berkelanjutan, termasuk sistem tumpang sari dengan komoditas sawit dan karet, sepanjang sesuai dengan tujuan pemberdayaan koperasi.
Manager Pertagas Area Sumbagsel, Andri Tobing, turut menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan program pemberdayaan ekonomi berbasis koperasi dan petani lokal.
Peluang Ekspor Besar, Kunci Ada di Packaging
Permintaan pasar ekspor, khususnya dari Dubai, disebut sangat menjanjikan. Pasar tersebut membutuhkan minimal dua kontainer per bulan, masing-masing berkapasitas sekitar 20 ton, atau total 40 ton nanas per bulan.
Dengan penuh semangat Agus menegaskan bahwa tantangan utama selama ini bukan pada kualitas buah, melainkan pada teknik penanganan dan pengemasan (packaging). Melalui serangkaian uji coba, termasuk simulasi pengiriman hingga 35 hari, hasilnya menunjukkan buah tetap aman tanpa kerusakan.
“Ilmu packaging menjadi kunci. Dengan metode yang tepat, risiko pembusukan bisa ditekan secara signifikan. Ini membuka peluang ekspor tidak hanya nanas, tetapi juga komoditas lain,” jelasnya.
Ke depan, fokus pengembangan Koperasi MIWA tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penguasaan teknologi pascapanen, agar nilai tambah benar-benar dinikmati petani dan koperasi, bukan hanya pedagang perantara.
Sinergi antara Koperasi MIWA dan Pertagas diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis hilirisasi pertanian, sekaligus membuka akses pasar nasional hingga internasional bagi produk unggulan daerah.





